Monday, December 31, 2018

Susahnya Menerbitkan Buku Solo

Pixabay


Ketika saya mulai belajar mengeja abjad demi abjad, hobi membaca mulai terbit. Sejak SD suka banget menyambangi perpustakaan. Saat merangkai kalimat dalam sebuah buku, seakan-akan saya ikut mengembara di dalam ceritanya.


Jika ada ilustrasi cover serta judul sebuah buku yang menarik, selalu menggoda saya untuk membacanya. Apalagi, ketika  menemukan blurb yang membuat penasaran, pasti sudah saya comot buku tersebut tanpa melihat siapa penulisnya.

Menyaksikan pengunjung perpustakaan atau sebuah toko buku yang membludak, membuat saya bermimpi. Ah, andai saja nama yang tertera di salah satu buku yang terpajang adalah nama saya, pasti bahagia sekali. Namun, rasanya enggak mungkin bisa. Begitu pikir saya berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Apalagi, setelah memasuki jenjang pernikahan dan terjun sebagai full time mom, mimpi di siang bolong itu seakan terkubur begitu saja. Saya asyik berkutat dengan harumnya popok si kecil.

Pixabay

Setelah anak-anak tumbuh, mulailah bisa sedikit meluangkan waktu untuk bermedsos ria. Mimpi saya terbit lagi ketika melihat foto selfie emak-emak memegang buku hasil karyanya seliweran di medsos. Wow, hebat banget mereka. Mungkinkah saya juga bisa?

♥♥♥♥♥♥

Alhamdulillah bisa berkenalan dengan medsos. Ternyata, banyak sekali website yang menawarkan pelatihan menulis  onlen. Tak jarang ada beberapa penulis senior yang berbaik hati membagikan ilmunya cuma-cuma. Tanpa ba bi bu, saya pun langsung ikutan gabung.

Mengikuti pelatihan menulis membuat saya sedikit melek literasi. Meski dengan loading agak lama dikarenakan faktor 'U', akhirnya ada beberapa artikel yang saya buat berhasil tayang di sebuah media onlen. Wow, excited banget rasanya.

Pixabay

Setelah berhasil membuat artikel, saya mengikuti training menulis cerita anak. Keberanian untuk ikut menerbitkan beberapa antologi mulai timbul. Meski bukan buku solo, lumayan senang juga melihat nama sendiri terpampang di sebuah buku berjejer dengan penulis lain.

Seringnya menerbitkan antologi membuat kemampuan menulis cerita semakin terasah, meski terkadang ide hilang entah ke mana. Alhamdulillah, ada seorang penulis senior yang bersedia mengoreksi outline yang saya susun. Saya semakin PeDe untuk mengirimkan outline ke penerbit.

Setelah browsing dan berhasil mengantongi beberapa email penerbit, saya pun memberanikan diri untuk menawarkan kumpulan 10 cerita pertama anak yang saya buat. Awalnya, saya mengirimkan naskah dengan tujuan penerbit mayor. Alhamdulillah, setelah menunggu beberapa bulan dengan perasaan tak menentu, ternyata, naskah saya ditolak mentah-mentah๐Ÿ˜ฅ. Kecewa, sudah pasti. Hopeless, sedikit. Rasanya minder juga mengirimkan naskah ke penerbit mayor lagi.

Untuk itu, saya ada beberapa tips receh untuk Readers yang ingin mengirimkan naskah ke penerbit.
  • Buat naskah terbaik semampunya. Alangkah baiknya jika sebelumnya mencari tahu style naskah yang disukai penerbit yang dituju. Bisa dengan menyambangi toko buku, ya.
  • Setelah mengirimkan naskah, lupakan dan buat karya lagi.
  • Cek, jika sudah tiga sampai enam bulan tak kunjung dapat kabar, tarik naskah (dengan mengirim email penarikan) sebagai bukti. Segera kirim ke penerbit atau media lain.
  • Banyak berdoa๐Ÿ˜


Rasanya kayak nemu durian runtuh 

Akhirnya, atas info dari seorang sahabat,  naskah saya kirim ke penerbit semi mayor. Alhamdulillah, setelah satu bulan naskah di acc. Ternyata, setelah naskah diterima, untuk terbit menjadi sebuah buku tak secepat yang saya kira. Di sinilah kesabaran diuji lagi. Tepat di penghujung tahun buku saya pun terbit.

Penampakan buku solo saya yang pertama 

Wow, ini hadiah terindah dan motivasi buat saya untuk terus berkarya di tahun baru.  Berharap kelak dapat terbit mayor. Hmm,  apakah Readers juga pernah mengalami hal serupa?  Share, yuk! 




Tuesday, December 25, 2018

Mengasah Kemampuan dengan Lomba Blog

Pixabay

Holla Readers!
Tak terasa, sebentar lagi tahun 2018 berganti menjadi 2019. Apakah Readers sudah mulai membuat rancangan resolusi untuk tahun baru? Atau masih galau dengan resolusi yang gagal? 

Saya sendiri selalu membuat beberapa resolusi setiap tahunnya. Meskipun pada akhirnya ada beberapa rencana yang tak terlaksana.๐Ÿ˜ข Namun, kegagalan itu saya jadikan cambuk untuk menjadi lebih baik di tahun berikutnya.

Hidup akan lebih terarah dan teratur dengan adanya target yang dibuat. Resolusi juga dapat menjadi tolok ukur kemampuan diri. Salah satu resolusi yang saya buat untuk tahun baru adalah aktif ngeblog. 

Pixabay

Kenapa? Karena dengan ngeblog saya dapat berbagi informasi dan cerita. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang berkutat di ranah domestik,  blog juga dapat menjadi sarana untuk menjaga 'kewarasan'. Uneg-uneg yang belum sempat keluar, dapat dicurahkan dalam bentuk tulisan. 

So, apakah cukup berhenti di sini saja? No!  Selanjutnya, saya ingin menjajal kemampuan diri dengan cara mengikuti kompetisi. Selain itu, prestasi beberapa teman  blogger juga memotivasi untuk memberanikan diri mendaftar lomba konten blog.

Ternyata, banyak sekali manfaatnya jika mengikuti lomba, di antaranya:

  • Kemampuan menulis tentu saja semakin terlatih. Kunci untuk menjadi penulis andal adalah dengan sering membuat tulisan. Layaknya sebuah pisau, makin di asah semakin tajam. Blog kita pun akan semakin aktif. 
  • Wawasan kita pun akan bertambah. Jika penyelenggara  lomba mencantumkan tema maka secara tidak langsung kita akan terpacu untuk mencari bahan tulisan sesuai tema. 
  • Meningkatkan traffict. Dengan mengikuti kompetisi akan menambah pengunjung di blog kita. Bisa jadi peserta atau bloger lain akan tergoda mengulik artikel yang kita ikutkan lomba. 
  • Reward. Meski bukan tujuan utama, tetapi kita akan mendapatkan kepuasan tersendiri jika mendapatkan bonus hadiah. Sebagai ibu rumah tangga, mupeng juga untuk menambah pemasukan. ๐Ÿ˜‚


Nah, mumpung DUMET School  sedang menyelenggarakan lomba menulis blog, saya enggak mau dong, menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Masihakudisini.blogspot.com

Dumet School adalah sebuah lembaga kursus terpercaya untuk pembuatan website, digital marketing, dan desain grafis. Mengikuti lomba menulis blog DUMET School artinya saya ikut membagikan informasi yang dibutuhkan oleh pencari tempat kursus yang bonafid. Alasannya, setiap pesertanya wajib share artikel yang dilombakan via medsos. Bermanfaat, kan?

Wisnutri.com
Readers, jangan tunda lagi, kuy! Ikutan lomba sekaligus berbagi info kece.  Caranya mudah banget, tinggal klik lomba menulis blog, ya. Eits, ada bocoran tipsnya juga, loh.

Tips Agar Readers Juara


  • Judul artikel unik, kreatif, menarik, dan beda dengan judul artikel peserta lainnya.
  • Artikel original hasil karya sendiri dan menarik untuk dibaca.
  • Berikan gambar atau video agar lebih menarik.
  • Share artikelnya di facebook kalian. 
  • Ikuti semua syarat dan peraturan yang sudah ditetapkan.

Hadiahnya juga mantab banget buat nambah uang belanja.๐Ÿ˜


FYI, selain juara di atas, masih ada lagi hadiah voucher pulsa untuk tujuh orang pemenang. Jadi, peluang kalian untuk menang juga terbuka lebar. Asyiik.  Buruaaan daftar. Good luck!



Salam Blogger


Nongkrong di Taman Depan Stasiun Sembari Antre Tiket


Enggak terasa, tahu-tahu sudah liburan sekolah lagi. Setelah berkutat dengan soal-soal ujian, akhirnya si krucils pun bisa bernapas lega. Tentu perlu juga mengajak mereka untuk refreshing sejenak. 


Selain di hari raya, ritual mengunjungi mertua juga berlaku saat libur panjang tiba. Tempat tinggal kami yang berbeda kota terkadang menjadi kendala untuk saling berkunjung. Selama ini komunikasi hanya melalui WA. Si kakak sudah excited banget membayangkan asyiknya bobo ditemani Uti. 

Tetapi, alasan yang juga membuat kakak bersemangat mengunjungi kakek neneknya adalah kami menggunakan moda KA, salah satu transportasi favoritnya. Ada beberapa hal yang menyebabkan KA dijadikan pilihan,

  • Bebas Asap Rokok
Saya paling enggak kuat jika menghirup asap rokok. Pasti pusing dan mual. Alhamdulillah, sekarang KA bebas polusi udara.

  • Toilet Bersih 
Saat bepergian jauh rasanya enggak mungkin saya menahan BAK gara-gara toilet kotor. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, kini toilet kelas ekonomi pun lumayan bersih.

  • Melintasi View yang Sejuk
Meski duduk berjam-jam, rasanya enggak akan bosan jika naik KA. Lintasan rel yang sering melewati area persawahan dan perkebunan dapat menyejukkan mata. Segerr.... AC yang tersedia juga membuat kami nyaman sepanjang perjalanan.

Namun, karena kesadaran penumpang akan kebersihan masih kurang, terkadang masih seenaknya membuang sampah bekas makanan. Padahal, di setiap gerbong telah  disediakan tempat sampah. Untung saja petugas kebersihan sigap menyapu gerbong. 

Nah, setiap menikmati transportasi yang satu ini saya harus sedikit berkorban. Yup, untuk mendapatkan tiketnya saya harus rela antre berjam-jam. Apalagi saat ini sedang musim liburan. Ada sih, ticket box, tetapi hanya untuk KA tujuan jarak jauh, ya. Tinggal isi form data diri, tujuan, serta taruh uang di tempat yang disediakan. Karcis pun siap dicetak.



Siang itu saya segera meluncur ke Stasiun Kota Baru untuk membeli tiket. Sudah bisa dipastikan antrean membludak. Saya mendapat no urut 243.๐Ÿ˜ฅ Apa boleh buat,  mengunjungi mertua harus tetap terlaksana. Terpaksalah harus sabar menanti.






Ups, mata saya tertuju pada pemandangan di depan stasiun. Terdapat tiga patung singa yang berjejer. Kok, saya bisa lupa kalau ada Taman Trunojoyo di depan stasiun. Siiplah, kami segera menyeberang ke arah taman. Asyik juga nih, ngantre tiket sambil selonjoran di bangku taman. Lumayan untuk menghilangkan pegal di kaki.

Taman Trunojoyo ini cocok banget untuk tujuan refreshing keluarga. Tempat ini terbagi menjadi dua area yang terpisah oleh pertigaan. Di sebelah utara terdapat air mancur sekaligus tempat untuk membilas badan si kecil setelah basah kuyup. Ada pula perpustakaan mini yang menyediakan aneka buku. Mulai dari bacaan anak hingga dewasa. Ruangannya lumayan nyaman lo, buat baca.




Tersedia playground dan permainan yang cocok buat si kecil. Dijamin, anak-anak maupun orang dewasa pasti betah berlama-lama di sini. Tak terasa, hampir dua jam kami asyik di perpustakaan mini. Perut mulai keroncongan. 

Kami pun menuju ke area taman bagian selatan. Di sana terdapat Pujasera Sriwijaya yang menyediakan aneka hidangan. Tinggal pilih sesuai selera, ya. Area ini tepat berada di depan pintu keluar stasiun. 


Setelah menikmati maksi, kami buru-buru kembali ke ruang tunggu untuk antre tiket lagi. Tak lama kemudian, karcis KA sudah di tangan. Hmm ... rasa bosan mengantre terbayar sudah.  

Jadi, kalau Readers ke Kota Malang menggunakan moda KA, bisa singgah dulu buat melepas penat. Dijamin langsung segar lagi, deh.


   Salam,







Friday, December 7, 2018

Tetap Berdaya di Ranah Domestik dengan Menjahit

Pixabay

Apakah Readers termasuk seorang "stay at home mom"? Setelah menikah hanya berkutat di ranah domestik? Hmm, menjadi ibu rumah tangga murni pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Apapun itu, setelah mengambil suatu keputusan, tentu kita akan menghadapi sebuah konsekuensi. Jika biasanya kita disibukkan dengan aneka pekerjaan kantor, kini hanya berdiam diri selepas beraktivitas di dapur. 

Namun, hanya tinggal di rumah tak seharusnya menjadikan kita tidak produktif. Meski suami memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang memadai, tak ada salahnya jika kita melakukan hobi untuk menghilangkan kejenuhan. Tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri jika kegiatan tersebut dapat menghasilkan "sesuatu". Sekali dayung, dua pulau pun terlampaui. Dapat menyalurkan hobi sekaligus bisa menambah pemasukan.

Salah satu hobi yang dapat dikembangkan adalah menjahit. Pada zaman sekarang, profesi ini termasuk menjanjikan, lo. Dunia  industri fashion sedang naik pesat sehingga kebutuhan akan pakaian dengan berbagai model juga meningkat. 

Selain dapat membantu keuangan keluarga, ada beberapa keuntungan yang didapat jika seorang ibu menekuni dunia jahit-menjahit.


Dapat Dilakukan Tanpa Keluar Rumah 
Dengan berbekal mesin jahit, kita dapat melakukan kegiatan ini tanpa meninggalkan anak-anak sehingga tugas utama kita sebagai ibu dapat berjalan dengan baik. Waktu melakukannya pun dapat diatur sesuai keinginan.


Menghemat Pengeluaran
Sebagai seorang manajer rumah tangga, kita dituntut untuk pandai mengelola keuangan. Jika memiliki ketrampilan menjahit, pengeluaran untuk membeli baju tentu dapat dipangkas. Pakaian seluruh anggota keluarga dengan model apapun dapat kita produksi sendiri. Apalagi ongkos menjahit kini tidaklah murah. Lumayan, kan, Readers. 

Namun, dalam memulai sebuah usaha tidaklah semudah membalik telapak tangan. Diperlukan ketekunan serta kesungguhan. Bagi Readers pemula, berikut ini adalah sedikit tips  yang saya buat berdasarkan pengalaman pribadi untuk memulai usaha menjahit yang dapat dicoba. 
  • Menguasai Pola Dasar 
Ada baiknya jika mengikuti kursus menjahit terlebih dahulu. Minimal tingkat dasar, ya. Meski ada sebagian orang yang mampu secara otodidak. Memiliki pengetahuan pola dasar akan memudahkan untuk membuat pola yang lebih rumit.

Pixabay

  • Memiliki Mesin Jahit
Bagaimana akan memulai usaha jika tidak mempunyai mesin jahit? Tidak harus yang mahal, ya. Saran saya, gunakan mesin jadul  yang warna hitam. Bahkan, konon semakin lawas semakin baik kualitasnya. 
  • Megikuti Komunitas
Menjadi member sebuah grup menjahit dapat membuka wawasan kita tentang mode yang sedang tren sehingga kita bisa selalu "up date" serta mendapatkan ilmu baru. Saat ini sudah banyak grup bertema jahit-menjahit di sosial media. 
  • P r o m o
Gunakan pakaian atau kerudung hasil jahitan sendiri untuk menghadiri undangan pada acara-acara di lingkungan sekitar. Nah, dari lingkungan kecil ini kita bisa mendapatkan pelanggan.

Pixabay

Itulah sedikit tips memulai usaha menjahit bagi pemula. Konsumen akan senang menggunakan jasa kita jika kualitas  jahitan bagus. Practise makes perfect. Jangan khawatir, untuk banyak berlatih kita dapat membeli kain di toko kiloan dengan harga miring. Jadi, enggak harus mahal, ya. 
Selamat mencoba!


#ChallengeRumbelMenulis